Tuesday, January 27, 2009

Tahun Baru Semangat Baru


Gong Xi Fat Coi

Ya inilah hari baru. Semangat baru untuk melanjutkan aktivitas kita selanjutnya.

Saya juga sedang menyiapkan suatu menu baru yang tentu saja sudah lewat perenungan panjang. Berdasarkan pengalaman saya mengembangkan orang di level Supervisor dan District Manager, saya berpikir alangkah baiknya memberikan sebuah ulasan mengenai 4 cara berpikir kreatif dalam penulisan saya, selain saya sudah menguasainya juga sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari, tetap saya juga akan membahas tentang materi kepemimpinan ala Seven Habit dan sumber-sumber lainnya tetapi kerangka berpikirnya tetap.

Salam Leadership
Surya D. Rachmannuh

Tuesday, January 20, 2009

Pendekatan dan Pandangan Appreciative Inquiry

Appreciative Inquiry adalah sebuah cara berpikir, memandang dan bertindak secara kuat, dengan tujuan perubahan pada organisasi yang berarti. Appreciative Inquiry bekerja pada asumsi bahwa apapun yang anda inginkan lebih, sudah ada tersedia dalam tubuh organisasi itu sendiri. Ketika proses problem solving secara terpisah dan terbagi atas berbagai bagian system, Appreciative Inquiry membangun sebuah image yang membangun pasukan untuk memberikan kehidupan dan energi pada sebuah system. David Cooperrider, Suresh Srivastva, Frank Barrett, John Carter dan lainnya membangun teori ini di Case Western Reserve University di Cleveland Ohio di tahun 70an.


Problem seperti apa yang anda hadapi?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering saya tanyakan pada klien adan ketika saya menjadi konsultan pengembangan internal. Saya mencari “kebutuhan” atau gaps pada kemampuan untuk membantu para manajer mengisi gap mereka atau menyelesaikan masalah mereka. Karena saya menekankan pada masalah mereka, saya tidak hanya mendapatkan masalahnya malah saya membantu mereka memperbesarnya sebelum saya datang membantu mereka. Setelah yang mendapatkan teori Appreciative Inquiry, Saya mainkan kembali pikiran saya dengan klien internal saya. Saya menyadari bahwa saya telah menempatkan perhatian saya pada problem yang mungkin adalah beberapa kekuatiran timbul menjadi masalah ketika saya memainkan peran saya sebagai penemu masalah. Seharusnya saya melakukan pertanyaan “Apa hal-hal baik yang terjadi disini?” Ide apa yang dapat anda berikan kepada saya dan dapat dibagikan kepada orang lain? Bagaimana anda mendokumentasikan keberhasilan anda? Maka peran saya akan menjadi seorang fasilitator untuk menentukan kondisi apa yang membuat kemunkinan keberhasilan itu teradi dan bagaimana kita dapat mendukung kondisi ini menjadi sebuah budaya organisasi.

Ini adalah perbandingannya antara pendekatan secara tradisional dan Appreciative Inquiry

Pendekatan Tradisional :

• Menentukan masalah
• Perbaiki apa yang salah
• Fokus pada perbaikan

Muaranya adalah “Masalah apa yang anda miliki?”

Sedangkan pendekatan Appreciative Inquiry adalah sebagai berikut :

• Mencari untuk solusi pada apa yang sudah terjadi
• Mempertahankan apa yang telah berjalan
• Fokus pada apa yang membuat sesuatu itu lebih hidup

Muaranya adalah “Apa yang sudah berjalan baik disini?”

Appreciative Inquiry adalah sebuah filosofi kompleks yang mengandung keseluruh sistem sebagai sebuah permintaan tentang apa yang sedang berjalan benar disini. Inquiry menemukan data bahwa data itu perlu dianalisa dan diangkat menjadi sebuah tema yang umum. Kemudian kelompok mengartukulasi tema dan mimpi itu menjadi “Apa yang mungkin dapat kita lakukan” dan “Apa jadinya nanti”. Apa jadinya nanti adalah sebuah pengembangan visi masa depan yang bercermin atas analaisa pada masa yang lalu. Keseluruhan sistem dipelihara dalam arti ditemukan tindakan-tindakan terbaiknya di masa lalu, kemudian mengembangkannya kedalam masa depan. Ini berbeda dari pekerjaan visioning lainnya karena pengembangan visi organisasi masa depan didasari oleh sebuah kenyataan pada masa yang lalu.


Asumsi-asumsi dari Appreciative Inquiry adalah

1. Didalam setiap perkumpulan, organisasi atau kelompok, ada sesuatu yang bekera dengan baik
2. Apa yang kita fokuskan akan menjadi kenyataan kita
3. Realitas di ciptakan dalam sebuah jara dan ada realitas yang banyak sekali
4. Tindakan dengan cara mengajukan pertanyaan pada sebuah organisasi atau kelompok mempengaruhi kelompok itu dengan cara yang sama
5. Orang akan mempunyai keyakinan lebih dan merasa nyaman dalam perjalanan menuju ke masa depan yang serba tidak pasti ketika mereka mendapatkan kunci keberhasilan yang sudah pasti terjadi di masa lalu (yang pasti-pasti aja dech)
6. Jika kita membawa keberhasilan masa lalu kita ke masa depan, maka mereka akan menjadi yang terbaik di masa depan
7. Sangat penting untuk menghargai perbedaan-perbedaan
8. Bahasa sehari-hari yang kita gunakan akan menciptakan kenyataan hidup kita sekarang dan di masa depan

Asumsi-asumsi ini akan terlihat masuk akan kepada anda ketika aplikasi di tentukan sebagai sebuah tantangan. Sebagai contoh, asumsi ke-4 mengkonter model pendekatan sosial yang tradisional bahwa seorang periset dapat mempertahankan sebuah observasi atau interview yang netral-netral saja. (sehingga hasilnya biasa-biasa juga). Saya juga percaya bahwa kehadiran kita dalam perubahan dinamika organisasi secara kelompok pada cara yang sama pula. Juga cara kita mengatakan pertanyaan-pertanyaan akan mempengaruhi kelompok pada cara yang sama pula (asumsi no.8).

Bayangkan kemungkinan-kemungkinannya

Bayangkan jika pekeraan anda adalah membantu orang dan organisasi menemukan apa yang terbaik dari diri mereka dan membantu mereka untuk mengambil tindakan lebih pada apa yang terbaik pada diri mereka?

Atau bayangkan anda membangun berdasarkan apa yang telah membuat anda jadi pada hari ini daripada anda harus mengubah diri anda sendiri?

Semua ini terjadi di dalam organisasi, komunitas dan pada diri masing-masing individu. Organisasi mengetahuinya sebagai Appreciative Inquiry, komunitas menyebutnya Asset Based Development atau Appreciative Planning and Action; individu mengetahuinya sebagai Solution-Focus Therapy atau Brief Therapy.

Appreciative Inquiry benar-benar menghargai masa lalu dan itu adalah sebuah alasan lain untuk membantu orang mengelola perubahan. Masing-masing dari kita yang sering menggunakannya serasa “magic” ketika kita menjabarkan kekuatan pada apa yang pernah kita alami. Magic datang dari kesaksian dari partisipan dengan pesan bahwa bukan tentang apa yang telah mereka lakukan itu salah atau berhenti melakukannya. Itu adalah sebuah afirmasi atau peneguhan atas apa yang sudah berjalan dengan baik dan siap untuk dikembangkan lagi setiap saat.


Salam Leadership
Surya D. Rachmannuh
Training Specialist

Thursday, January 15, 2009

Siklus 4D AI

Discovery: Fase Discovery adalah sebuah penemuan yang rajin dan ekstensif untuk mengerti “Apa yang terbaik” dan “Apa yang sudah terjadi”. Penemuan dimulai dengan tindakan kolaborasi dari rangkaian pertanyaan interview dan membentuk sebuah petunjuk wawancara. Pertanyaan AI tertulis sebagai pernyataan afirmasi pada sebuah nilai positif organisasi, pada area yang telah dipilih. Pertanyaan dibentuk untuk membangun sebuah cerita, memperkaya pandangan dan dialog internal pada keseluruhan organisasi dan membawa sebuah nilai positif utama kedalam sebuah focus secara menyeluruh.

Hasil dari Discovery termasuk :
• Formulasi dari hubungan dan aliansi yang baru, yang menjembatani bawaan-bawaan tradisi
• Sebuah deskripsi yang kaya atau memetakan nilai positif utama yang ada dalam organisasi
• Pembelajaran dan testimoni dari cerita tentang Best Practice bagi organisasi secara menyeluruh, inovasi yang berharga dan tindakan yang nyata
• Meningkatkan pengetahuan organisasi dan kumpulan kebijakan
Hasil-hasil ini, akan mempengaruhi kepentingan organik, perubahan yang tidak direncanakan sebelumnya, fase sebelum implementasi dan menjadi basis perencanaan pada fase berikutnya.

Dream: Fase Dream adalah sebuah eksplorasi dari “Jadi apa nantinya”, sebuah waktu bagi orang untuk mengekplorasi harapan dan cita-cita dari pekerjaan mereka, relasi kerja, organisasi dan dunia pada skala yang besar. Ini adalah sebuah waktu untuk sekelompok orang untuk berpikir besar, diluar batas dan berpikir diluar batasan yang pernah dilakukannya di masa lampau.

Tujuan dari fase Dream ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengembangkan generative, afirmasi dan pandangan harapan dari sebuah masa depan. Secara tipikal dapat diselesaikan dalam sebuah forum grup yang besar diaman kombinasi yang tidak biasa dari para stakeholder yang mengeksplorasi :
• Image yang kreatif dari organisasi pada potensi mereka yang paling positif
• Strategi visi yang inovasi
• Sebuah rasa elevasi tinggi dari sebuah tujuan

Design: Fase Design melibatkan pada pembuatan pilihan tentang “Apa yang seharusnya” dilakukan dalam sebuah organisasi atau system. Itu adalah sebuah reKreassi secara sadar atau transformasi melalui alat seperti sistem, struktur, strategi, proses dan images yang sejalan dengan Kekuatan organisasi di masa lalu (discovery) dan Potensi tertinggi di Masa Depan (Dream).

Destiny: Fase Destiny menginisiasi sebuah seri dari tindakan inspirasi yang mendukung pembelajaran dan inovasi yang terus menerus atau “Apa yang akan terjadi”. Karena siklus dari 4D menyediakan sebuah forum terbuka bagi karyawan untuk berkontribusi dan melangkah maju dalam pelayanan dari sebuah organisasi, perubahan biasanya muncul pada setiap fase dari proses AI. Pada fase Destiny, fokus secara spesifik pada komitmen pribadi dan organisasi serta jalannya ke depan. Hasil dari Destiny inin adalah sebuah perubahan yang secara paralel dalam organisasi yang meliputi :
• Management practices
• HR processes
• Measurement systems
• Customer service systems
• Work processes and structures

Bagaimana AI bekerja?

AI bekerja karena AI memperlakukan orang seperti orang dan bukan sebagai mesin. Orang adalah makhluk sosial. Kita menciptakan identitas kita dan pengetahuan kita dalam berhubungan dengan orang lain. Kita selalu ingin tahu. Kita suka memberikan cerita dan mendengarkan cerita. Kita memberikan nilai, keyakinan dan kebijakan kita dalam cerita. Kita suka belajar dan menggunakan apa yang telah kita pelajari untuk mendapatkan yang terbaik. Dan kita senang untuk melakukan pada hal yang kita perhatikan dan hargai. AI memampukan pemimpin untuk menciptakan organisasi manusia secara alami – meningkatkan pengetahuan, sebagai basis kekuatan, adaptasi, juga sebagai organisasi pembelajar.

Appreciative Inquiry di Organisasi

Appreciative Inquiry adalah sebuah pembelajaran dan eksplorasi atas apa yang memberikan kehidupan kepada system kemanusiaan pada saat terbaik mereka. Ini adalah sebuah metodologi pengembangan organisasi berdasarkan asumsi bahwa pernyataan dan dialog tentang kekuatan, sukses, harapan dan cita-cita adalah sebuah transformasi atas pernyataan itu sendiri.

Pernyataan itu sendiri didasari oleh beberapa keyakinan tentang manusia secara alami dan pengorganisasiannya :
• Manusia secara individu dan kolektif mempunyai karunia yang unik, ketrampilan dan kontribusi atas kehidupan ini
• Organisasi adalah sebuah system social, sumber dari kapaistas relasi yang tidak terbatas, yang diciptakan dan dikomunikasikan lewat bahasa
• Pandangan yang kita lihat atas social yang diciptakan di masa depan, pertama diartikulasi, merupakan sebuah petunjuk bagi tindakan individu ataupun kelompok.

Melalui komunikasi (permintaan dan dialog) orang dapat memfokuskan perhatian dan tindakannya dari analisa masalah kepada apa kondisi yang ideal dan kemungkinan peningkatan produktivitas di masa depan.
Secara singkat, Appreciative Inquiry menyatakan bahwan perubahan dan cara mengorganisasi orang, pada tampilan terbaiknya, adalah sebuah proses relasi dari sebuah inquiry, yang dinyatakan dalam sebuah afirmasi / peneguhan dan penghargaan / apresiasi.

Satu cara unruk mengerti Appreciative Inquiry adalah dengan menimbang pada kedua kata “Apprciative Inquiry”. Setiap kata mempunyai implikasi pelaksanaan pada perubahan organisasi. Kekuatan dari AI adalah pada saat kedua kata itu bekerja sama. Sama seperti hydrogen dan oksigen yang berkombinasi untuk membentuk air, sebuah sumber subtansi hidup dalam dunia ini. “Appreciation” dan “Inquiry” bila dikombinasikan akan menghasilkan sebuah kekuatan, pendekatan penting dalam kepemimpinan dan perubahan organisasi.

Appreciation: Recognition and Value Added

Appresiasi berkaitan dengan pengakuan, dengan nilai dan dengan ucapan syukur. Kata-kata “Appreciate” adalah sebuah kata kerja yang membawa arti ganda. Itu mengacu pada tindakan pengakuan dan tindakan peningkatan nilai. Definisinya termasuk :
• Untuk mengenali hal terbaik dalam diri seseorang dan dunia sekitar kita
• Memfokuskan pada hal-hal yang memberikan kehidupan, kesehatan, vitalitas dan kesempuranaan pada system kehidupan manusia
• Untuk mengafirmasi masa lalu. Kekuatan, kesuksesan, asset dan potensi kita masa kini
• Untuk meningkatkan nilai-nilai (seperti sebuah investasi yang dinyatakan dalam nilai)

Jadi, organisasi, bisnis dan komunitas dapat mengambil keuntungan dari apresiasi yang lebih besar. Secara global, orang-orang butuh akan pengakuan. Mereka ingin bekerja dari seluruh kekuatan mereka pada saat mereka juga menemukan nilai mereka. Eksekutif dan manager banyak sekali memimpin jauh dari nilai-nilai mereka sendiri. Mereka mencari cara untuk mengintegrasikan semangat mereka yang besar ke dalam pekerjaan sehari-hari dan organisasi berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan nilai mereka kepada pemegang saham, karyawan dan dunia pada skala yang lebih besar.

Inquiry: Exploration and Discovery

Appreciative Inquiry adalah lebih dari sekedar appresiasi, pengakuan dan pengembangan nilai. Itu juga tentang sebuah riset / penyelidikan.

Inquiry mengacu pada tindakan eksplorasi dan penemuan. Juga berimplikasi atas pertanyaan tentang kemungkinan-kemunkinan baru, berada pada state yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, menakjubkan dan sebuah keinginan untuk belajar. Inquiry mengacu pada keterbukaajn atas perubahan. Kata “inquire” juga sebuah kata kerja yang dapat berarti :
• Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
• Mempelajari
• Mencari, eksplorasi, investigasi

Inquiry adalah sebuah proses pembelajaran bagi organisasi juga pada individu. Kita semakin jarang mencari, mengeksplor atau mempelajari apa yang telah kita ketahui. Kita mengajukan pertanyaan tentang para area-area yang tidak biasa bagi kita. Tindkaan dari Inquiry membutuhkan ketulusan hati dan keterbukaan pada semua kemungkinan-kemungkinan baru, pandangan yang baru dan pengertian yang baru pula. Memang kita tidak mungkin mendapatkan “semua jawaban”, “mengetahui apa yang seharusnya dilakukan” atau “sebuah kepastian” ketika kita berhadapan dengan sebuah inquiry. Semangat dari Inquiry adalah semangat untuk belajar.

How Does Appreciative Inquiry Work?

Proses yang digunakan untuk menggerakkan kekuatan dari Appreciative Inquiry atau disingkat AI adalah siklus 4D. Berdasarkan dari system kehidupan – orang, tim, organisasi dan komunitas – pertumbuhan dan perubahan arah pada apa yang telah mereka pelajari, AI bekerja secara focus pada perhatian organisasi pada potensi positive dan dijadikan sumber utama kekuatan. Sumber utama kekuatan yang positif adalah sebuah sumber daya alami bagi organisasi atas kumpulan kebijakan atas kekuatan, kemampuan, sumber daya, potensi dan harta organisasi yang tidak ternilai harganya.

Siklus 4D AI melepaskan energi dari sumber utama kekuatan positif tersebut untuk transformasi dan mempertahankan kesuksesan mereka.
Affirmative Topic Choice: Siklus 4D dimulai dengan sebuah identifikasi pemikiran pada apa yang akan dipelajari – Topik Afirmasi. Karena system kehidupan manusia bergerak berdasarkan arahan yang mereka pelajari, pilihan atas apa yang ingin mereka pelajari, apa yang menjadi perhatian utama organisasi baik secara esensi dan strategic. Topik yang dipilih akan menyediakan sebuah kerangka kerja untuk mengumpulkan cerita-cerita, penemuan dan sharing best practices dan menciptakan sebuah pengetahuan yang kaya atas suasana kerja. Mereka menjadi agenda organisasi untuk pembelajaran dan inovasi.

Setelah dipilih, topic afirmasi seperti “inspired leadership”, “optimal margins” atau “budaya sebagai sebuah keuntungan yang kompetitif” memberikan petunjuk atas siklus 4D yaitu Discovery, Dream, Design and Destiny.

Salam Kepemimpinan
Surya D. Rachmannuh
Training Specialist
Certified ISO, Webmaster,
Problem Solving and Decision Making
site : www.webiddesign.com

Monday, January 12, 2009

Appreciative Inquiry

Appreciative Inquiry

Appreciate atau valuing; 1. sebuah tindakan dari mengenali potensi terbaik dari diri seseorang atau dunia di sekeliling kita, mengafirmasi masa lalu dan menunjukkan kekuatan, sukses dan potensi, untuk menyatakan hal-hal yang memberikan kehidupan (kesehatan, vitalitas, kesempurnaan) didalam menjalani kehidupan. 2. Meningkatkan nilai sebagai contoh ekonomi telah meningkat nilainya. Sinonim katanya adalah Menilai, menghargai, kepercayaan diri dan kebanggan.

Inquire : 1. tindakan eksplorasi dan penemunan 2. Mengajukan pertanyaan; untuk membuka sebuah potensi dan kemungkinan yang baru. Sinonim katanya adalah Penemuan, pencarian dan sebuah studi eksplorasi yang sistematik.


Appreciative Inquiry adalah tentang sebuah coevolusi penemuan untuk mendapatkan yang terbaik dalam diri orang, organisasi dan dunia yang relevan sekitar mereka. Lebih dalam lagi, AI melibatkan sebuah pencarian yang sistematik pada apa yang memberikan “kehidupan” dalam sebuah ekosistem kehidupan yang lebih baik, efektif dan kemampuan konstruktif terbaik dalam bidang ekonomi, ekologi dan kemanusiaan. AI melibatkan sebagai cara yang sentral, sebuah seni dan praktek dari pengajuan pertanyaan yang menguatkan sebuah system kapasitas untuk meningkatkan, mengantisipasi dan meninggikan nilai potensi positif. AI secara sentral meningkatkan mobilisasi dari inquirey melalui “pertanyaan positif yang tidak dikondisikan” (unconditional positive question), sering melibatkan ratusan bahkan ribuan orang. Intervensi tugas dari AI memberikan sebuah cara untuk mempercepat imajinasi dan inovasi; lebih dari negasi, kritik dan diagonisi spiral, maka disana ada Penemuan (Discovery), Mimpi (Dream) dan Desain (Design). AI mencari, secara fundamental, pembangunan sebuah kerjasama yang konstruktif antara sekumpulan orang dan topic yang dibicarakan orang secara keseluruhan seperti Pencapaian, asset, potensi yang belum dikembangkan, inovasi, kekuatan, pemikiran yang tinggi, kemungkinan, perbandingan, point tertinggi, nilai moral hidup tertinggi, tradisi, kompetensi strategic, cerita-cerita, ekspresi dari kebijaksanaan, sebuah pendalaman makna dari roh dan jiwa dan pandangan dari nilai dan kemungkinan masa depan.

Berbicara pada hal ini sebagai sebuah kesatuan, AI dalam segala peranannya bekerja dari nilai perubahan positive (Positive Change Core) dan diasumsikan bahwa setiap sistem kehidupan banyak sekali point positive yang kaya dan belum disentuh sama sekali sehingga, dengan melinkkan energi positif ini dalam agenda perubahn dan perubahan yang tidak pernah terpikirkann sebelumnya dimobilisasi dengan cepat dan demokratis

Surya D. Rachmannuh
Trainining Specialist
Certified Webmaster,
Problem Solving and Decision Making

Wednesday, January 07, 2009

The reason I live

The reason I Live is to worship YOU...

---------------------------------------------

Alasan untukku hidup adalah untuk menyembahMu TUHAN.

Terkadang dalam kehidupan ini, kita sebagai manusia sering mengalami kekecewaan yang hinggap begitu saja tanpa kita sadari, membuat kita tidak termotivasi.

Pagi ini walaupun saya secara pribadi, mendengar bahwa MOTIF sangat penting dalam dunia kerja, seperti motif ingin menyenangkan atau berbakti kepada orang tua kita, motif ingin menyenangkan pasangan kita (bagi yang sudah nikah), motif untuk sukses supaya dapat menyekolahkan anak yang layak atau bahkan ke luar negeri misalnya sangat sangat penting bagi kita sebagai motor penggerak kesuksesan kita.

Namun apa yang terjadi, semangat yang kita bawa seakan luntur ketika berhadapan dengan kegiatan sehari-hari dimana kejadian sehari-hari tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan bahkan kita merasa tidak ada yang memperhatikan, semakin anda proaktif malah beban kerja yang menjadi semakin bertambah, memberikan masukan yang positif malah anda yang harus menjadi bertanggung jawab, orang-orang yang anda menaruh harapan tidak menjadi kenyataan dan masih banyak hal lainnya...

Putus asa, sedih, kecewa bercampur aduk jadi satu. Benarlah dikatakan kita dapat menggantungkan perasaan, harapan kita kepada manusia karena sebaik apapun manusia dengan keterbatasannya tidak akan dapat memenuhi apa yang kita inginkan. Baik sudah kita utarakan maupunn yang kita simpan saja dalam hati.

Hari ini, ketika mendapatkan lirik lagu ini bahwa marilah kita mengubah sudut pandang atau persepsi atau paradigma kita bahwa lakukanlah yang terbaik seperti kita bekerja kepada TUHAN dan lirik ini sangat menguatkan bahkan ketika pasangan kita sebagai seorang yang paling terdekatpun tidak mampu membahagiakan kita, sekali lagi dengan keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa, tetapi kita memiliki ALLAH yang luar biasa.

Alasan ku untuk hidup adalah hanya untuk menyembah dan memuliakan namamu bila dijadikan sebagai standar kehidupan baik secara Rohani maupun Jasmani akan sangat membantu kita dalam masa yang sukar, sebuah penghiburan yang sangat membantu kita untuk keluar dari keadaan krisis menuju ke sebuah pengertian yang mendalam tentang arti hidup ini.

The reason I live, is to worship YOU.
Sukses untuk anda.

Surya Rachmannuh

Wednesday, December 31, 2008

Refleksi 2008

Dear all,

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2008, mungkin banyak sekali pencapaian yang sudah kita lakukan atau memang kita tidak merencanakannya sama sekali.

Benar sekali dikatakan, bila anda gagal membuat RENCANA, maka berarti anda berencana untuk GAGAL. Karena segala sesuatu yang sudah direncanakan saja terkadang tidak dapat tercapai dengan sempurna apalagi yang tidak direncanakan. Sederhana bukan pola pikirnya tetapi tidak sederhana pelaksanaannya karena butuh kedisplinan yang baik. Contoh saja ngeblog setiap hari, membutuhkan sebuah usaha yang "lebih" dan passion yang tinggi didalam mengembangkan pikiran. Jadi tidak usah berfokus pada uang dulu, nanti uang akan mengikuti dengan sendirinya.

Kali ini saya juga ingin mencoba share tentang diri prinsip saya sendiri dulu. Bagi saya saat ini saya mencoba mengaplikasikan prinsip DHTEM. Apakah itu?

D = Dream, dimana pabrik pikiran terbesar kita yang menyimpan segudang ide, termasuk ide-ide yang liar sekalipun yang boleh disebut imajinasi (contoh : orang ke bulan mungkin dulu hanya merupakan impian saja). Intinya, jangan anggap remeh diri dan ide-ide anda. Segala mimpi anda yang baik sekalipun baru akan terbukti pada saat anda laksanakan. Jadi lakukan tindakan yang pertama yaitu BERTINDAK, janganlah menunda-nunda lagi. Selagi hari masih siang, marilah kita bekerja karena akan datang malam dimana kita tidak dapat bekerja secara maksimal walaupun INGIN.

H = Happiness. Ini merupakan kunci sukses kedua. Pilihlah pekerjaan yang menyenangkan anda, fokuskan segela energi anda disana. Bagaimana dengan pekerjaan anda sekarang? Apakah upahnya masih menarik hati anda sehingga anda tidak mau beralih profesi? It is ok. Hidup ini adalah PILIHAN. Hidup bagaikan masuk ke dalam Supermarket. Silakan anda pilih dan bayar dikasir. Prinsip yang diajarkan Stephen R. Covey, pengarang 7 habit adalah Prinsip Tabur Tuai. Apa yang anda tabur akan anda tuai. Contoh : pernahkan anda dalam situasi bahwa anda telah bekerja keras dan mendapatkan hasil yang tidak maksimal. Jangan kuatir, tetap bekerja dan berdoa, karena nanti akan tiba waktunya anda akan menuai apa yang telah tabur.

T=Totalitas. Maksudnya? Anda mencurahkan seluruh pikiran dan jiwa anda terhadap mimpi/cita-cita/tujuan/goal hidup anda. Secara singkat menangkan diri ANDA dulu, kemudian keluarga kecil anda (istri dan anak), keluarga besar anda, lingkungan kerja anda, dan terakir adalah masyarkat Indonesia. Pilih sebuah profesi yang dapat mendukung seluruh cita-cita anda, kerahkan seluruh potensi dan maksimallah. Proses lebih penting dari hasil. Proses yang benar dan ditingkatkan terus menerus akan berkembang menjadi besar dengan sendirinya dibanding dengan hasil yang cepat tetapi anda tidak tahu rumus suksesnya.

Saya akan mengundang anda dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut: Ada yang berpendapat, jika anda ingin kaya, maka anda berdaganglah, jangan menggunakan profesi anda untuk menjadi kaya. Bagaimana menurut saya secara pribadi? Berpikirlah bijaksana. Tidaklah salah kita menjadi KAYA. Jika lewat profesi anda bisa kaya, jadilah kaya terutama lewat SERVICE EXCELLENCE, dalam arti anda mengembangkan hubungan antar manusia yang baik dengan sesama orang, lebih banyak "menjual" kemampuan anda lewat PUBLIC SPEAKING dan pemanfaatan media lainnya sehingga anda menjadi kaya, mengapa tidak? gunakan terus potensi kita sepanjang kita memberikan nilai tambah bagi orang lain dan tidak bertentangan dengan prinsip seperti Dalam keluar (dalur), Tanam Tuai (tantu), Bisa karena biasa (Bikabia) dan Aku mau berubah (Amuba). Ada lagi gaya amuba dalam organisasi perusahaan adalah perusahaan mempunyai orang-orang yang kompeten didalamnya mampu menangkap setiap peluang dari berbagai sisi, jadi tidak tergantung atasan dulu, tunggu disuruh dan sebagainya tentu saja yang sesuai dengan strategi dan kondisi perusahaan anda masing-masing.

E=Expert. Dibidang yang anda tekuni maka sang waktu akan menjawabnya dengan proses kesinambungan yang terus menerus melalui pembaruan satu ke pembaruan lainnya akan membawa anda terus naik dan tidak akan turun. Mungkin penghasilan anda turun sedikit pada saat anda melakukan investasi pada bidang atau area yang menjadi kelemahan anda, tapi itu akan berbuah matang pada waktunya. dan terakhir adalah.....

M=Money. Uang. UUD, ujung-ujungnya duit, walaupun lencana, piagam, sertifikat sangat penting, tapi duitlah tujuan utama manusia yang masih ada didunia. Entah itu tujuan pribadi dulu, lalu orang lain atau sebaliknya. Silakan anda yang menentukan sendiri. Anda kan sudah dewasa bukan?

Surya Rachmannuh
Training Specialist
Certified ISO Lead Auditor
Certified Webmaster
Certified Problem Solving and Decision Making

Thursday, October 30, 2008

Rumus Sukses Kita

“Tabur PIKIRAN, tuai TINDAKAN
Tabur TINDAKAN, tuai KEBIASAAN
Tabur KEBIASAAN, tuai KARAKTER
Tabur KARAKTER, tuai NASIB”.

Karakter kita adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kebiasaan adalah faktor yang kuat di dalam hidup kita. Karena konsisten dan sering merupakan pola yang tidak disadari, maka kebiasaan terus menerus, setiap hari, mengekspresikan karakter kita dan menghasilkan keefektifan kita atau ketidak efektifan kita.

Orang yang menyaksikan perjalanan Apollo 11 ke bulan terpaku ketika melihat orang-orang pertama berjalan diatas bulan dan kembali ke bumi. Pujian yang berlebihan seperti ”fantastis” dan ”luar biasa” tidak cukup untuk menggambarkan hari-hari yang penting itu. Untuk sampai ke bulan, para astronot benar-benar harus lepas dari tarikan gravitasi bumi yang besar sekali. Lebih banyak energi dikerahkan dalam beberapa menit pertama peluncuran, dalam beberapa mil pertama perjalanan, dibandingkan yang digunakan selama beberapa hari berikutnya untuk menempuh setengah juta mil.

Demikian juga dengan kebiasaan, kebiasaan memiliki tarikan gravitasi yang besar sekali – lebih besar daripada yang kebanyakan orang sadari atau mau akui. Untuk memutus kecenderungan kebiasaan yang sudah tertanam dalam seperti

• menunda-menunda
• tidak sabar
• mencela
• atau egois

yang melanggar keefektifan manusia, anda perlu kekuatan kemauan dan perubahan yang BESAR dalam hidup. Peluncuran kebiasaan baru membutuhkan tenaga yang besar sekali untuk memutus tarikan gravitasi kebiasaan lama, agar kita bebas untuk memasuki dimensi baru atas kebiasaan-kebiasaan baru kita.

Gravitasi adalah kekuatan yang besar dan jika menggunakannya secara efektif, maka kita dapat memanfaatkan tarikan gravitasi dari kebiasaan baru untuk menciptakan kepaduan dan keteraturan yang diperlukan untuk menegakkan KEEFEKTIFAN di dalam hidup kita.

Jadi ubahlah :

menunda-menunda MENJADI Disiplin dan tepat waktu
tidak sabar MENJaDI SABAR
mencela MENJADI Mendengarkan
• atau egois MENJADI penuh kasih dan pengertian

Salam kepemimpinan,

Surya D. Rachmannuh,
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Tingkat baru dalam berpikir

Albert Einstein mengemukakan, "Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti kita menciptakan masalah tersebut".

Tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif adalah tentang tingkat yang baru dalam berpikir ini. Tingkat berpikir ini merupakan pendekatan yang berpusat pada PRINSIP, pendekatan berdasarkan KARAKTER, pendekatan DALUR (dari dalam ke luar) terhadap keefektifan pribadi dan antar pribadi.

DALUR berarti memulai pertama dengan diri sendiri, bahkan lebih mendasar lagi, memulai dengan bagian paling dalam dari diri sendiri - dengan PARADIGMA anda, KARAKTER anda, dan MOTIF anda.

Jika pernikahan anda ingin bahagia, JADILAH jenis orang yang menghasilkan ENERGI POSITIF dan menyingkirkan energi negatif.

Jika ingin punya anak yang menyenangkan dan mau bekerja sama, JADILAH orang tua yang lebih pengertian, empati, konsisten dan penuh kasih.

Jika ingin memiliki ruang gerak yang lebih besar dalam pekerjaan anda, JADILAH orang yang lebih mau membantu dan lebih banyak memberikan dukungan.

Jika anda ingin dipercaya, JADILAH layak dipercaya.

JIka anda menginginkan kebesaran sekunder dari bakat yang diakui, FOKUSlah pada kebesaran PRIMER dan KARAKTER.

DALUR mengatakan kemenangan pribadi mendahului kemenangan Publik, Prinsip DALUR adalah sebuah PROSES yang berkesinambungan dari pembaruan yang didasari oleh hukum-hukum alam yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Jika kita dengan sungguh-sungguh berusaha mengerti dan memadukan prinsip-prinsip ini ke dalam kehidupan nyata, saya yakin kita akan menemukan kembali kebenaran dari apa yang dikemukan oleh T. S. Eliot:

"Kita tidak boleh berhenti menjelajah dan akhir dari semua penjelajahan kita akan tiba dimana kita memulai dan mengetahui tempat tersebut untuk pertama kalinya."

Salam kepemimpinan,

Surya D. Rachmannuh,
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Cara Kita Melihat Masalah adalah MASALAHNYA

Cara kita melihat masalah adalah masalahnya :

"Saya sudah mengikuti kursus mengenai pelatihan manajemen yang efektif. Saya berharap banyak dari karyawan saya dan saya berusaha keras untuk bersahabat dengan mereka dan memperlakukan mereka dengan benar. Akan tetapi, saya tidak merasakan loyalitas mereka. Saya kira jika saya tinggal dirumah karena sakit selama satu hari saja, mereka akan menghabiskan sebagian besar waktu mereka mengobrol di dekat keran air minum. Mengapa saya tidak bisa melatih mereka menjadi mandiri dan bertanggung jawab - atau menemukan karyawan yang demikian?"

Etika Kepribadian mengatakan kepada saya bahwa saya dapat mengambil semacam tindakan dramatis - mengguncangkan segalanya - yang akan membuat karyawan saya berkembang dan menghargai apa yang mereka miliki atau ada sebuah program pelatihan motivasi yang akan membuat mereka memiliki komitmen atau bahkan saya dapat memperkerjakan orang baru yang akan melakukan pekerjaan yang lebih baik.

Masalahnya adalah, apakah mungkin dibawah perilaku yang tidak loyal itu, para karyawan ini mempertanyakan apakah kita benar-benar bertindak demi kepentingan terbaik mereka? Apakah mereka merasa kita memperlakukan mereka sebagai objek mekanis? Apakah ada sejumlah kebenaran dalam hal itu?


Dapatkah kita melihat betapa mendasarnya paradigma dari Etika Kepribadian mempengaruhi cara kita melihat masalah kita dan juga cara kita berusaha memecahkan masalah itu?

Apakah orang melihatnya atau tidak, banyak yang menjadi terkecoh dengan janji kosong dari Etika Kepribadian. Terkadag cara berpikir jangka panjang para eksekutif benar-benar tertutup oleh psikologi tipu muslihat dan pembicara "motivasional" yang memiliki tidak lebih dari kisah-kisah yang memikat dan digabung dengan kata-kata kosong.

Sesungguhnya mereka menginginkan ISI, mereka menginginkan sebuah PROSES. Mereka menginginkan lebih dari sekadar aspirin dan plester obat. Mereka ingin memecahkan masalah mendasar yang kronis dan berfokus pada prinsip-prinsip yang memberikan hasil jangka panjang.

Salam Kepemimpinan
Surya D. Rachmannuh
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Monday, October 27, 2008

Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan

Daya tarik yang besar dari Etika Kepribadian adalah adanya semacam caya yang cepat dan mudah untuk mencapai kehidupan yang berkualitas - keefektifan pribadi dan hubungan yang kaya dan mendalam dengan orang lain - tanpa menjalani proses alami berupa kerja dan pertumbuhan yang memungkinkan terjadinya itu semua.

Ini adalah sebuah simbol tanpa substansi. Ini adalah skema "menjadi kaya dengan cepat" yang menjanjikan "kekayaan tanpa kerja". Dan ini mungkin kelihatannya berhasil - tetapi tetap merupakan skema.

Etika kepribadian menyesatkan dan menipu. Berusaha mendapatkan hasil berkualitas tinggi dengan teknik-tekniknya dan perbaikan cepatnya adalah sama efektifnya dengan berusaha untuk tiba disuatu tempat di Chicago dengan menggunakan peta Detroit.

Didalam semua kehidupan ada tahap-tahap berurutan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Seorang anak belajar untuk berguling, duduk, merangkak dan kemudian berjalan lalu berlari. Tiap tahap adalah penting dan masing-masing membutuhkan waktu. Tidak ada tahap yang dapat dilewati begitu saja.

Ini berlaku di dalam semua fase kehidupan, di dalam semua bidang perkembangan, entah itu belajar piano atau berkomunikasi secara efektif dengan rekan sekerja. Ini berlaku pada individu, dalam pernikahan, dalam keluarga dan dalam organisasi.

Kita mengetahui dan menerima fakta dan prinsip dari proses ini di dalam benda-benda fisik, tetapi untuk memahaminya di dalam bidang emosional, didalam hubungan manusia dan bahkan di dalam bidang karakter pribadi adalah kurang lazim dan lebih sulit. Walaupun kita memahaminya, untuk menerimanya dan hidup selaras dengannya bahkan lebih tidak lazim dan lebih sulit lagi. Akibatnya, kita kadang mencari jalan pintas, berharap dapat melompati beberapa langkah vital ini untuk menghemat waktu dan tenaga dan tetap meraih hasil yang diinginkan.

Apa yang terjadi bila kita berusaha memintas suatu proses yang alami didalam pertumbuhan dan perkembangan kita? Jika anda hanya seprang pemain tenis biasa saja, tetapi memutuskan untuk bermain pada tingkat yang lebih tinggi untuk memberikan kesan yang lebih baik, apa hasilnya? Apakah berpikir positif saja memungkinkan anda bersaing secara efektif melawan seorang profesional?

Bagaimana jika anda ingin membuat teman anda percaya bahwa anda dapat bermain piano pada tingkat konser sementara kemampuan anda yang sebenarnya sekarang adalah tingkat pemula?

Jawabannya jelas. Sama sekali tidak mungkin untuk melanggar, mengabaikan atau memintas proses perkembangan ini. Ini berlawanan dengan alam, dan berusaha menggunakan jalan pintas seperti ini akan mengakibatkan kekecewaan dan frustasi.

Pada skala sepuluh angka, seandainya saya berada pada tingkat dua pada bidang apapun dan ingin pindah ke tingkat lima, saya harus lebih dahulu mengambil langkah ke tingkat tiga. "Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama" yaitu BERTINDAK dan tidak menunda-nunda, dan hanya dapat dilakukan satu langkah demi langkah.

Contoh dari Stephen R. Covey (7 habit)

Suatu hari saya pulang untuk menghadiri pesta ulang tahun ketiga putri saya. Saya mendapatkannya berada di sudut ruang depan, dengan menantang mengengam semua hadiahnya, tidak bersedia membiarkan anak-anak lain bermain dengan hadiah miliknya. Hal pertama yang saya lihat adalah beberapa orangtua di dalam ruangan menyaksikan peragaan yang egois ini. Saya merasa malu dan semakin malu karena waktu itu saya mengajar untuk mata kuliah hubungan manusia. Dan saya tahu, atau setidaknya merasakan, apa harapan orang tua ini.

Suasana di dalam ruangan benar-benar tidak enak - anak-anak berkerumum di sekeliling putri saya yang masih kecil dengan tangan mereka terjulur meminta untuk bermain dengan hadiah-hadiah yang baru saja mereka berikan dan putri saya menolak dengan kukuh. Saya berkata dalam hati," Tentunya saya harus mengajarkan putri saya untuk berbagi. Nilai dalam berbagi adalah salah satu dari hal yang paling mendasar yang kami yakini.

Lihat cara pendekatan berikut ini :

Saya pun mencoba melakukan sebuah permintaan sederhana. "Sayang, MAUkah kamu meminjamkan mainan yang baru saja mereke berikan kepadamu?

"Tidak," jawabnya datar.

Cara yang kedua adalah menggunakan sedikit penalaran. "Sayang, JIKA kamu mau meminjamkan MAKA kalau kamu pergi kerumah mereka, mereka juga akan meminjamkan mainan mereka kepadamu".

Kembali jawabannya adalah "tidak".

Saya menjadi lebih malu karena jelas saya tidak mempunyai pengaruh. Cara yang ketiga adalah SUAP. Dengan berbisik saya berkata "Sayang, JIKA kamu mau meminjamkan mainan itu, ayah punya kejutan istimewa untukmu. Ayah akan beri kamu permen karet."

Aku tidak mau permen karet, bentaknya.

Sekarang saya menjadi jengkel. Untuk usaha saya yang keempat, saya mengandalkan rasa takut dan ancaman. "KALAU KAMU tidak mau meminjamkan mainanmu, KAMU akan dihukum!.

"Aku tidak peduli!" teriaknya. "Ini semua mainanku. Aku tidak perlu meminjamkannya!"

Akhirnya saya mengandalkan kekuatan. Saya lamgsung mengambil beberapa mainan tersebut dan memberikannya kepada anak-anak lain. "Ini anak-anak, mainlah".

Yang menarik adalah saya sekadar mengambil keputusan awal bahwa saya benar, ia harus berbagi dan ia salah karena tidak melakukannya. Barangkali saya memaksakan harapan tingkat yang lebih tinggi kepadanya karena pada skala saya sendiri, saya berada pada tingkat yang lebih rendah. Saya tidak mampu atau tidak bersedia memberikan "kesabaran" dan "pengertian", sehingga saya mengharapkannya untuk memberikan benda-benda. Dalam upaya untuk mengimbangai kekurangan saya, saya meminjam kekuatan dari posisi atau otoritas saya untuk memaksanya melakukan apa yang saya ingin agar ia kerjakan.

Kita akan membahas pada ulasan berikutnya bahwa meminjam kekuatan itu adalah sebuah kelemahan.

Salam kepemimpinan,
Surya D. Rachmannuh
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Friday, October 24, 2008

Paradigma yang berpusat pada prinsip

Prinsip-prinsip ini adalah bagian dari sebagian besar agama yang besar dan abadi, dan juga filosofi sosial dan sistem etika yang abadi. Prinsip-prinsip ini terbukti sendiri dan dapat dengan mudah diabsahkan oleh siapa saja.

1. Keadilan

yang darinya keseluruhan konsep kita tentang keadilan dikembangkan. Anak-anak kecil tampaknya memiliki perasaab bawaan tentang gagasan keadilan bahkan terlepas dari pengalaman pengkondisian yang berlawanan. Ada perbedaan besar dalam cara keadilan didefinisikan dan dicapai, tetapi ada kesadaran yang hampir universal tentang gagasan itu.


2. Integritas dan kejujuran

Keduanya menciptakan dasar kepercayaan yang esensial untuk kerjasama dan pertumbuhan pribadi serta antarpribadi jangka panjang.


3. Martabat manusia

Semua manusia diciptakan sama dan diberkahi oleh Sang Pencipta denga hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut, yaitu Hak Hidup, kebebasan dan pengejaran kebahagiaan".


4. Pelayanan :Gagasan memberikan kontribusi atau sumbangan

5. Kualitas dan Keunggulan

6. Potensi : kita berada dalam tahap embrio dan dapat bertumbuh dan berkembang dan melepaskan semakin banyak potensi, mengembangkan semakin banyak bakat. Sangat berhubungan dengan potensi adalah

7. Pertumbuhan, proses pelepasan potensi dan pengembangan bakat

8. Kesabaran

9. Pengasuhan dan

10. Dorongan

Prinsip bukanlah praktek. Praktek adalah aktivitas tertentu atau aksi. Sementara praktek bersifat spesifik menurut situasi, maka prinsip adalah kebenaran yang dalam dan fundamental yang memiliki aplikasi universal. Prinsip berlaku pada individu, pernikahan, keluarga, organisasi, swasta dan pemerintah.

Prinsip bukanlah nilai. Sekumpulan pencuri dapat mempunyai nilai yang sama, tapi nilai ini melanggar prinsip dasar yang sedang kita bicarakan. Prinsip adalah wilayah. Nilai adalah peta. Jika kita menghargai prinsip yang benar, kita memiliki kebenaran - suatu pengetahuan tentang segalanya sebagaimana adanya.

Prinsip adalah pedoman untuk tingkah laku manusia yang terbukti mempunyai nilai yang langgeng dan permanen. Prinsip bersifat mendasar. Prinsip pada dasarnya tidak dapat dibantah karena sudah jelas dengan sendirinya.

Keadilan, kejujuran, kemuliaan, kebergunaan, prestasi dan peningkatan terus menerus dapat anda dipertimbangkan sebagai kebahagiaan dan keberhasilan yang kekal.

Semakin dekat peta atau paradigma kita dijajarkan dengan prinsip atau hukum alam ini, semakin akurat dan fungsional peta atau paradigma itu jadinya. Peta yang benar akan menimbulkan dampak tanpa batas pada keefektifan pribadi dan keefektifan antar pribadi kita yang jauh lebih besar daripada jumlah upaya apapun yang kita kerahkan untuk mengubah sikap dan perilaku kita.

Salam kepemimpinan,
Surya D. Rachmannuh
Surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Kekuatan Paradigma

Tujuh Kebiasaan Manusia yang sangat efektif mencakup banyak prinsip dasar dari keefektifan manusia. Kebiasaan-kebiasaan ini bersifat mendasar, merupakan hal yang primer. Ketujuh kebiasaan ini menggambarkan internalisasi prinsip-prinsip yang benar, menjadi dasar kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng.

Akan tetapi sebelum kita dapat benar-benar mengerti Tujuh Kebiasaan ini, kita perlu mengerti "paradigma" kita sendiri dan bagaimana membuat suatu perubahan paradigma.

Baik Etika Karakter dan Etika Kepribadian adalah contoh-contoh dari paradigma sosial. Kata "paradigma" berasal dari bahasa Yunani. Kata ini semula merupakan istilah ilmiah dan lebih lazim digunakan sekarang ini dengan arti model, teori, persepsi, asumsi atau kerangka acuan.

Dalam pengertian umum, paradigma adalah cara kita "melihat" dunia - bukan berkenaan dengan pengertian visual dari tindakan melihat melainkan berkenaan dengan mempersepsi, mengerti, menafsirkan.

Untuk tujuan kita, cara sederhana untuk mengerti paradigma adalah dengan memandangnya sebagai peta. Kita tahu bahwa "peta bukanlah wilayah". Peta hanyalah penjelasan tentang aspek tertentu dari wilayah.

Andaikan saja anda ingin tiba disuatu tempat tertentu ditengah kota Chicago. Sebuah peta jalan dari kota itu akan sangat membantu anda untuk tiba disebuah tujuan. Akan tetapi, andaikan saja anda diberi peta sebenarnya adalah peta detroit. Dapatkah anda bayangkan rasa frustasi dan ketidakefektifan usaha untuk mencapai tempat tujuan anda?

Anda mungkin sedang mengolah "perilaku" anda - anda dapat berusaha lebih keras, lebih giat, melipatduakan kecepatan anda. Akan tetapi usaha anda hanya akan berhasil membawa anda ketempat yang salah tersebut dengan lebih cepat.

Anda mungkin sedang mengolah "sikap" anda - anda dapat berpikir secara lebih positif. Anda tetap tidak akan tiba ke tempat yang benar, tetapi mungkin anda tidak akan peduli. Sikap anda akan menjadi begitu positif sehingga anda akan bahagia dimanapun anda berada.

Intinya adalah anda masih tersesat. Masalah yang mendasar tidak ada kaitannya dengan masalah perilaku atau sikap anda. Masalahnya sebenarnya berkaitan dengan memiliki peta yang salah.

Jika anda mempunyai peta yang benar dari Chicago, maka keuletan menjadi penting dan jika anda menghadapi penghalang yang membuat frustasi sepanjang jalan maka "sikap" dapat membuat perbedaan yang benar-benar menentukan. Akan tetapi, persyaratan yang pertama dan paling penting adalah keakuratan peta tersebut.

Kita masing-masing mempunyai banyak peta di dalam kepala kita yang dapat dibagi menjadi dua kategori utama : peta segala sesuatunya, sebagaimana adanya atau REALITAS dan peta segala sesuatunya seperti seharusnya atau nilai. Kita menafsirkan semua yang kita alami melalui peta-peta mental ini. Kita jarang mempertanyakan keakuratan peta-peta tersebut; kita biasanya bahkan tidak sadar bahwa kita memiliki keduanya. Kita cuma mengasumsikan bahwa cara kita memandang segala sesuatu adalah cara segala sesuatunya itu sebagaimana adanya atau sebagaimana seharusnya.

Dan sikap serta perilaku kita bertumbuh dari asumsi-asumsi itu. Cara kita memandang sesuatu adalah sumber dari cara kita berpikir dan cara kita bertindak.

Intinya, paradigma adalah sumber dari sikap dan perilaku kita. Kita tidak dapat bertindak dengan integritas dilauar paradigma tersebut. Kita benar-benar tidak dapat mempertahankan keutuhan jika kita berbicara dan berjalan secara berbeda dengan cara kita melihat.

Ini menunjukkan salah satu cacat dasar dari Etika Kepribadian. Mencoba mengubah sikap dan perilaku hanya sedikit berarti dalam jangka panjang jika kita lalai memeriksa paradigma dasar darimana sikap dan perilaku itu mengalir.

Semakin sadar kita akan paradigma dasar, peta dan asumsi kita dan sejauh mana kita telah dipengaruhi oleh pengalaman kita, maka semakin kita dapat menerima tanggung jawab untuk paradigma itu dan memeriksanya, mengujinya berdasarkan realitas, mendengarkan orang lain dan bersikap terbuka terhadap persepsi mereka, sehingga mendapatkan gambaran yang lebih besar dan pandangan yang jauh lebih objektif.

Salam Kepemimpinan
Surya D. Rachmannuh
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Kebesaran Primer dan Sekunder

Mengulas topik yang lalu tentang Etika Kepribadian, bukanlah berarti pertumbuhan kepribadian, pelatihan ketrampilan berkomunikasi dan pendidikan dalam bidang strategi pengaruh dan berpikir positif tidaklah menguntungkan, ini merupakan esensi untuk mencapai keberhasilan, tapi hanya untuk bagian sekunder saja, bukan yang primer.

Dalam memanfaatkan kapasitas manusia kita untuk membangun berdasarkan generasi sebelum kita, mungkin kita kurang hati-hati telah menjadi begitu terfokus pada bangunan kita sendiri sehingga melupakan dasar yang menahannya tetap berdiri, atau karena begitu lama kita telah menuai tanapa pernah menabur, barangkali kita telah melupakan kebutuhan untuk menabur.

Banyak orang dengan kebesaran sekunder yaitu pengakuan sosial akan bakat mereka - tidak memiliki kebesaran atau kebaikan primer dalamkarakter mereka. Cepat atau lambat, anda akan melihat ini dalam setiap hubungan jangka panjang. Sesungguhnya,karakterlah yang berkomunikasi paling fasih.

Intinya, "siapa kita adanya" berkomunikasi jauh lebih fasih dibandingkan apapun yang kita katakan atau kerjakan. Kita semua mengetahuinya. Ada orang yang kita percaya sepenuhnya karena kita mengetahui karakter mereka. Entah karena fasih atau tidak, entah mereka memiliki teknik hubungan manusia atau tidak, kita percaya kepada mereka dan kita bekerja dengan berhasil dengan mereka.

"Kedalam tangan setiap individu diberikan kekuasaan yang mengagumkan untuk berbuat baik atau jahat - pengaruh yang diam, tidak disadari, tidak terlihat dari kehidupannya. Ini benar-benar merupakan pancaran konstan dari siapa orang itu sebenarnya, bukan sosok pura-pura yang ia perankan. - William George Jordan

Salam Kepemimpinan
Surya D. Rachmannuh
surya_rachmanuh@yahoo.co.id

Monday, October 13, 2008

Etika Kepribadian dan Etika Karakter

Banyak literatur selama 50 tahun terakhir pada saat tulisan ini dibuat (sekitar tahun 1940 - 1990an, Steven R. Covey menemukan bahwa literatur itu diisi dengan kesadaran akan

* Citra sosial
* teknik dan perbaikan cepat (Quick Fix)

dengan plester sosial dan aspirin yang mengobati masalah akut dan kadang bahkan tampak menyembuhkannya untuk sementara waktu, namun itu akan menimbulkan masalah kronis yang mendasarinya tanpa tersentuh untuk membusuk dan muncul kembali ke permukaan berkali-kali....

Dalam kontras yang tajam, hampir semua literatur dalam 150 tahun yang pertama sesudah kemerdekaan AS, apa yang disebut Etika Karakter disebut sebagai dasar dari keberhasilan. Hal-hal seperti :

* Integritas
* Kerendahan hati
* Kerajinan
* Penguasaan diri
* Keberanian
* Keadilan
* Kesabaran
* Kerajinan
* Kesopanan
* dan Hukum Utama (berbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu). Dan Autobiografi Benjamin Franklin mewakili literatur ini.

Sangat menarik bukan? Ini adalah sebuah kisah tentang usaha satu orang untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip ini kedalam karakter dasar mereka.

Akan tetapi, tak lama setelah perang Dunia I, pandangan dasar tentang keberhasilan berubah dari Etika Karakter menjadi apa yang dapat kita sebut Etika Kepribadian, dimana keberhasilan menjadi lebih merupakan fungsi kepribadian, citra masyarakat, sikap dan perilaku, ketrampilan dan teknik, yang melicinkan proses interaksi manusia.

Etika kepribadian ini pada dasarnya mengambil dua jalan yaitu :

1. Teknik hubungan manusia dan masyarakat
2. Sikap Mental Positif (SMP)

Memang kadang filosofi ini diekspresikan di dalam pepatah yang mendatangkan ilham dan kadang absah seperti :

* Senyum menghasilkan lebih banyak teman daripada kerutan pada dahi
* Apapun yang dapat dipahami dan diyakini oleh benak manusia, maka itu pasti dapat dicapai.

Bagian lain dari pendekatan kepribadian jelas manipulatif, bahkan menipu, mendorong orang menggunakan teknik-teknik untuk membuat orang lain menyukai mereka atau berpura-pura tertarik akan hobi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari orang tersebut atau hendak menggunakan "penampilan kekuasaan" atau untuk menjalani kehidupan mereka dengan intimidasi.

Sebagian dari literatur ini menyatakan karakter sebagai bahan dari keberhasilan, tetapi cenderung mengkotak-kotakkannya dan bukan mengakui sebagai hal yang mendasar dan sebagai katalisator. Acuan pada etika karakter kebanyakan hanya dibibir saja; padahal penggerak dasarnya adalah teknik mempengaruhi yang cepat, strategi kekuasaan, keterampilan berkomunikasi dan sikap positif.

Bagaimana dengan kita yang hidup di Indonesia?

Salam Kepemimpinan
Surya D. Rachmannuh
surya_rachmannuh@yahoo.co.id

Monday, September 08, 2008

Perubahan Paradigma

Mulai sekarang ini saya akan membagi pengalaman saya lewat blog ini dapat berupa pengembangan diri atau kepemimpinan yang mungkin lebih santai berdasarkan Seven Habit of the most Highly Effective People yaitu :

1. Proactive
2. Begin with the end in Mind
3. Put First thing First
4. Think Win-win
5. Seek first to Understand than to be Understood
6. Sinergy
7. Sharpen the saw.

Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut :
Bila kita memprakktekken ketiga sifat yaitu 1,2 dan 3 maka kita akan mendapatkan kemenangan secara pribadi. Jika kita mengembangkan sifat ke-4,5 dan 6, maka kita akan mendapatkan kemenangan sosial dan untuk mempertajam ke enam sifat diatas kita perlu mengasah gergaji kita (sharpen the saw).

Salam Kepemimpinan.

Surya D. Rachmannuh
surya_rachmannuh@yahoo.co.id